Pedeng Cekeng; Melawat Kenangan, Merawat Harmoni

Helang untuk Air

Sabtu pertama Februari 2019, cuaca lumayan cerah untuk ukuran musim penghujan di Ruteng. Saya memacu sepeda motor ke arah timur, melawan dingin pagi; Pulang!  Saya tidak pulang ke rumah di Mbeling, tetapi pulang kepada kenangan masa kecil yang manis, di sawah warisan bapak, yang berjarak 40an km dari Ruteng, di desa Golo Leda, Borong, Manggarai Timur. Hari ini, setelah sawah itu selesai ditanami pada Januari kemarin, kami akan mengadakan upacara adat (adak) Pedeng Cekeng. Ini adalah upacara yang diadakan oleh orang Manggarai saat menanam padi atau sesaat setelahnya untuk meminta berkat semesta melalui para leluhur, agar pada musim tanam kali ini, apa yang ditanam dapat memberikan panenan yang melimpah.

Satu jam menyusuri jalan aspal berlubang yang membelah hutan TWA Ruteng, saya sampai di Lelak, kampung di dekat sawah. Cuaca tak secerah di Ruteng. Sawah kami terletak tak jauh dari jalan kampung. Hanya sekitar 500an meter. Menyusuri parit yang membelah hamparan sawah, membawa kembali kenangan masa kecil di sini. Lembahnya masih hijau. Di kejauhan, lereng – lereng bukit membiru. Gemericik air dan desau angin menghempas daun bambu, membawa setumpuk ingatan kembali.

Hamparan Sawah Warisan Bapak

Di sudut sawah, sebuah batu besar masih kokoh berdiri, sebagai menara pantau saat musim panen hampir tiba. Dari sini, kami mengawasi gerombolan burung pipit yang datang memakan padi. Ini adalah stasiun tempat kami mengendalikan bebunyian dari bambu yang dihubungkan dengan tali. Kami menyebutnya rontok. Sekarang, kebiasaan itu sudah tidak dilakukan lagi. Usia mama yang sudah beranjak senja tak bisa lagi setiap hari mengawasi burung pipit di sawah. Jarak dari kampung kami ke sawah lumayan jauh, 13km! Uang tidak akan cukup untuk menyewa ojek. Berjalan kaki, hanya jika keadaan benar – benar terpaksa. “Jika bukan karena sawah warisan, mungkin sudah ditinggalkan..” Keluh mama pada suatu hari, saat dia sakit.

Pedeng Cekeng adalah saat – saat yang sangat penting bagi kami, begitulah yang saya rasakan.  Seperti hari ini, selalu ada permenungan spiritual yang saya alami, di saat upacara ini berlangsung. Upacaranya sangat sederhana tetapi penuh makna, penuh kenangan.

Harum Kolo (Nasi bambu yang dimasak dengan cara dibakar) merebak ke seantero sawah.  Pada saat seperti ini, kami selalu diingatkan agar asap api selalu mengepul, membawa harum yang dibakar menyebar ke seluruh lahan yang sudah ditanami. Ini adalah penanda bagi semesta dan juga bagi padi – padi yang sudah ditanam bahwa sedang diadakan upacara untuk mereka. Ini juga serupa undangan bagi para arwah dan roh – roh (ata pele sina), yang mendiami wilayah itu untuk hadir dalam upacara.

Tapa Kolo

Sawah yang kami miliki saat ini adalah warisan dari kakek ke bapak, dan sekarang diwariskan kepada kami. Bersamaan dengan diwariskannya sawah dan hamparan lahan kering di sekitarnya, diwariskanlah pula semua kewajiban atasnya, termasuk harus selalu menggarap sawah itu, apapun hasilnya dan menjalankan serangkaian upacara adat yang sudah dijalankan secara turun – temurun.

Secara berurutan, upacara dimulai dengan ‘pemberkatan’ (sungke) pada beras yang dipakai untuk kolo persembahan (helang). Sungke ini juga sebagai penanda bahwa acara Tapa (bakar) kolo dinyatakan sah. Dalam budaya orang Manggarai Tapa Kolo, tidak boleh dilakukan sembarangan di beberapa tempat tertentu seperti di sawah, kebun dan rumah. Di luar kepentingan upacara, Tapa Kolo hanya boleh dilakukan di daerah netral tanpa pemilik, seperti di tepi sungai atau pantai. Hal ini menghindari kesalah-pahaman bagi ata pele sina. Karena Tapa Kolo harus disertai dengan sebuah upacara yang kurban persembahannya adalah seekor ayam jantan.

Setelah semua kolo matang maka acara puncak dimulai. Sebagai tuan sawah, mewakili mama dan semua saudara, saya bertindak sebagai pembicara dengan menyampaikan kata sambutan (kepok). Meski tidak ahli, di beberapa kesempatan, saya telah melakukan tugas ini dengan “cukup baik”. 😀 Kepok ini pertama – tama saya sampaikan ucapan penyambutan dan terima kasih kepada keluarga yang telah bersedia hadir mengikuti upacara. Kepok ini disebut kepok tiba atau kepok lonto loce. Masih pada kesempatan yang sama, melalui kepok juga disampaikan maksud dan tujuan mereka diundang, dan maksud dari upacara hari itu. Semuanya harus disampaikan dalam bahasa Manggarai yang khusus yang disebut “go’et”.  Salah satu dari yang hadir akan didapuk untuk merespon kepok itu. Media penyampaian kepok adalah tuak bakok (sadapan nira).

Setelah penyampaian kepok tiba,  selanjutnya kepok ditujukan kepada pembawa do’a (torok). Pembawa torok ini bukan orang sembarangan. Selain memiliki kemampuan menyampaikan do’a dalam baris – baris kalimat sajak dengan urutan yang runtut, dia juga harus seorang yang matang, dewasa dan memiliki kesucian secara adat, yang kriterianya sangat kompleks. Seandainya saya memenuhi syarat untuk membawakan torok, maka saya tidak perlu menyampaikan bagian kepok ini. Tetapi sayangnya, saya jauh dari semua kriteria yang ada. Hari ini, seorang sepupu dari bapak yang tinggal di kampung terdekat, diminta membawakan torok. Maka saya dengan hormat memintanya melakukan tugas itu melalui kepok.

Bahan Upacara Pedeng Cekeng

Peristiwa kepok ini biasanya diselingi oleh sebuah drama, mama yang meneteskan airmata. Kenangan akan almarhum bapak kembali hadir. Dan saat itu saya, anaknya yang jauh dari pantasberusaha semampunya untuk meneruskan apa yang telah ia wariskan. Saat menyampaikan kepok kepada pembawa torok, saya harus menyebutkan materi do’a apa saja yang harus disampaikan nanti. Pertama ditujukan kepada Wura agu ceki (arwah nenek – moyang, dan arwah keluarga yang sudah meninggal, termasuk arwah bapak). Meminta mereka menjaga kami, menjaga sawah ini, menjaga padi yang ditanam, agar tumbuh subur dan memberikan panenan yang berlimpah. (Duat pe’ang uma neka peke le watu, we’e one mbaru neka wecar le tana, saung bembang ngger eta, wake caler ngger wa, cing ngger sili, cakal ngger le, paes koes hang mane, dungka koes hang gula) Ke dua ditujukan kepada penguasa air dan tanah, (Ata lami wae agu naga tana) agar mereka bersama – sama menumbuhkan padi yang ditanam dan menjauhkannya dari hama. (Ngger pe’angs koes lacang agu kolang, ngger ones ces agu mapes). Dan yang ke tiga permohonan maaf kepada semua makhluk hidup terlebih khusus binatang yang secara tidak sengaja terbunuh atau terluka selama proses pengerjaan sawah itu. Ini adalah proses pendamaian dan rekonsiliasi degan alam. Termasuk juga permohon maaf jika pada saat pembersihan kawasan mata air, sebelum sawah dibajak, para penunggu merasa terusik. Bagian ini sekaligus mengingatkan martabat yang setara antara manusia dan makhluk hidup lain di muka bumi ini. Dan yang terakhir, sebagai penguasa atas segalanya, do’a disampaikan kepada Pencipta (Morin agu ngaran). 

Setelah kepok itu disampaikan, bersamaan disampaikaanya tuak juga diberikan seekor ayam jantan sebagai persembahan. Torok dimulai dengan materi yang telah disampaikan. Dimulai dengan kepok kepada para arwah dan penguasa alam melalui secangkir tuak yang disebut cico.  Setelah torok selesai, ayam itu disembelih dan darahnya dioleskan pada tanaman padi yang nantinya akan ditanam di petak sawah di antara padi yang sudah ditanam sebelumnya. Kolo yang sudah disiapkan secara khusus diambil dan dicampur dengan suwiran bagian hati dan dada ayam yang sudah dipanggang lalu dibubuhi garam kasar, selanjutnya akan menjadi persembahan yang disebut helang. Setelah memberikan helang dan cico, sebagiannya dimakan secara bersama – sama. Dua bilah bambu yang dipotong menyerupai sebuah wadah disiapkan untuk meletakkan helang yang disisakan, dan dua bilah bambu yang sudah ada helang di atasnya, ditancapkan di dua titik khusus di area sawah sebagai persembahan. Satunya untuk penguasa air dan satunya untuk penguasa tanah. Titik di mana dua sesembahan ini diletakkan tidak pernah dan tidak boleh diubah sejak jaman Kakek – nenek, hingga saat ini.

Setelah semua prosesi ini selesai barulah kami semua menikmati makan siang yang nikmat, kolo dan daging ayam, disajikan di atas nampan beralaskan daun pisang, ditemani bercangkir – cangkir tuak. Hujan yang segera turun dengan derasnya seakan menyambut do’a dan harapan kami dalam torok, semesta menerima permintaan rekonsiliasi dan menyambut persembahan kami dalam helang dan cico.

Kolo Yang Siap Disantap

Pedeng Cekeng selalu melahirkan refleksi akan semangat konservasi. Konservasi budaya dalam ritus, konservasi semangat dalam torok dan konservasi alam dalam rekonsiliasi dengan semua unsur kehidupan di tanah ini. Melalui upacara ini, kami selalu diingatkan untuk selalu merawat warisan yang amat berharga ini. Sawah ini telah memberikan penghidupan bagi kakek – nenek sekeluarga, juga bapak dan mama, dan sekarang kepada kami dan anak – cucu kami nantinya.

Pedeng Cekeng mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh di luasnya semesta. Hidupnya sangat bergantung kepada kebaikan alam dan Pencipta. Keserakahan bisa mengakibatkan putusnya relasi yang baik antara manusia dan alam, yang pada kahirnya akan melahirkan bencana bagi manusia itu sendiri. Itulah alasannya, mengapa rekonsiliasi harus dilakukan, bukan hanya dalam ritus, tapi juga dalam prilaku harian.

Bagi saya, ritus Pedeng Cekeng adalah lawatan pada kenangan masa kecil, masa – masa di mana kecintaan pada alam itu berkecambah dan tumbuh. Melalui torok dan helang, kami ingin merawat harmoni dengan alam, sang rahim kehidupan, wajah sang Pencipta, dan harapan yang tak kan pernah habis.

Please follow and like us:
error0

4 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*